Selasa, 07 Agustus 2012

LSM Kesatuan Bangsa Pemko Medan Jual Tanah SD Negeri 060926 di Jalan AH Nasution, Kelurahan Harjosari II Kecamatan Medan Amplas.

 

Sahbudin Ketua LSM Kesatuan Bangsa mengatakan kok bisa ya izin pembangunan ruko, yang "memakan" halaman SD Negeri 060926 di Jalan AH Nasution, Kelurahan Harjosari II Kecamatan Medan Amplas.Apa Pak wali kota sudah tidak peduli lagi dengan pendidikan di kota medan pembangunan ruko tersebut telah menggangu proses belajar-mengajar. Lahan yang digunakan sebagai lokasi pembangunan ruko itu, sebelumnya telah dihibahkan pemiliknya kepada pemerintah untuk pembangunan gedung SD Negeri tersebut.

Dalam konteks demikian,, pembangu-nan ruko yang telah memakan korban halaman sekolah itu, dapat disebut telah menafikan amanat yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Dan, yang memberikan izin pembangunan ruko itu lebih mengedepankan kepentingan pengusaha, ketimbang kepentingan mencerdaskan kehidupan ba-ngsa.

Di sisi lain, juga menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi moubiler dan fasilitas di SDN 060926, yang banyak di antaranya mengalami kerusakan dan tidak laik pakai. "Aneh juga, di Kota Medan masih ada sekolah fasilitasnya lebih buruk dibanding sekolah di pelosok desa,"katanya.

Hakim Mafia PN Medan Putuskan Kasus 2 bulan 7 hari

 

Hakim Ketua Sugiarto di Pengadilan Negeri Medan,terdakwa pengerusakan rumah dan penghinaan, pasangan suami istri, Awih dan Ai Lie divonis 2 bulan 7 hari korban Si Tiong Lin alias Ationg (58)  warga Jalan PWS Medan,  menganggap majelis hakim telah “bermain mata” dengan kedua terdakwa pasangan suami istri itu.

Dikatakan Ationg dalam persidangan itu, sebagai Hakim Ketua Sugiarta dan Jaksa Vera Tambun. “Masa kedua terdakwa itu, hanya divonis dua bulan tujuh hari, dikenakan pasal 170 junto 335. Saya merasa tidak puas, dalam putusan hakim ini. Pasti hakim bermain mata dengan terdakwa. Ada apa udang dibalik kuetiu,” ujar Atiog sore ini.

Kasus  dalam perbuatan tidak menyenangkan ini, telah dilaporkannya ke Polresta Medan, Nomor: STPL/514/III/2012/SU/Polresta Medan/Sek Medan Baru. Laporan pengaduan itu, Selasa (6/3) 2012 sekira pukul 12.25 Wib. Dalam kasus ini korban mengalami kerugian pintu gerbang samping kiri rumah terbuat dari besi rusak berat akibat pengerusakan yang dilakukan dua pasangan suami istri.

Lebih lanjut dikatakan, berarti ada istimewanya dua terdakwa itu. “Padahal sudah berkali-kali perbuatannya.melakukan penyerangan dan pengerusakan ke rumah. Saya sudah trauma dibuatnya kalau seperti ini. Sudah dua kali dia kulaporkan ke polisi atas masalah itu, dan aku maafkan. Tetapi dia tidak jera juga, yang ketiga kali tidak saya maafkan lagi dan akhirnya dia disidang dan divonis hanya dua bulan tujuh hari. Gak puas saya keputusan yang dibuat hakim ini,” ujar Ationg dengan nada kecewa.

Tionghoa Surabaya

 

Aktivitas golongan Tionghoa di sejumlah tempat di Indonesia cenderung dikonotasikan negatif. Mereka disebut-sebut sekumpulan oportunis yang menginginkan kekayaan tanpa peduli masyarakat sekitarnya. Sebelum dicitrakan rezim Orde Baru sejak 1966, masyarakat Tionghoa di Surabaya, Jawa Timur, pernah mengalami perlakuan represif dari kekuasaan Sekutu yang didasarkan pada diskriminasi rasial.
Kala itu, warga Tionghoa dituduh melakukan pencurian di gudang makanan milik tentara Sekutu. Tuduhan tersebut membuat banyak warga Tionghoa ditawan. Orang-orang Tionghoa di Pasar Pabean dan Songoyu yang terdiri dari pedagang sampai buruh pasar dan pegawai kemudian bersatu untuk memprotes penawanan itu. Pemerkosaan terhadap perempuan Tionghoa, pancingan tentara Inggris kepada warga Tionghoa miskin untuk melakukan pencurian di gudang makanan, serta perlakuan rasialis pada pembagian kebutuhan pokok antara orang kulit putih dan Tionghoa membuat mereka marah dan melakukan aksi mogok pada 10-13 Januari 1946.
Aksi perlawanan ini membuat ekonomi Surabaya mendadak lumpuh. Akibatnya, kebutuhan logistik tentara Sekutu, komunitas Eropa dan masyarakat di Surabaya, terhambat. Baru ketika Mayor Jenderal Mansergh mengajukan permohonan maaf, kondisi ekonomi Surabaya pulih kembali.
Peristiwa pemogokan itu hanya sebagian kecil dari sikap represif dan diskriminatif yang pernah dialami warga Tionghoa di Surabaya. Dalam buku Komunitas Tionghoa di Surabaya (1910-1946) ini, kita juga diperkenalkan ihwal asal mula kedatangan imigran tionghoa di Surabaya yang semula terbentuk sebagai aktivitas individu yang tak terorganisir.
Gelombang migrasi yang tak teratur ini membuat mereka bebas beraktivitas dengan memunculkan bahasa yang berlainan. Tiap imigran membawa muatan budaya walau tak semua budaya leluhur mereka diterapkan. Secara perlahan, bahasa asli mereka terdorong untuk hilang, yang ditambah dengan perkawinan silang yang melahirkan generasi peranakan.
Pendidikan Barat dengan bahasa Belanda atau Melayu juga menjadi faktor terkikisnya bahasa asli leluhur mereka di Surabaya. Dibandingkan imigran lain, seperti India atau Arab, imigran Tionghoa menempati jumlah terbesar di Surabaya.
***
Buku yang terbit pada 2010 ini semula adalah skripsi penulis, Andjarwati Noordjanah, di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada dan pernah diterbitkan pada 2004 oleh penerbit Mesiass (Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah) sebagai naskah bermutu program Yayasan Adikarya Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan Ford Foundation. Dalam buku ini, penulis juga mengupas eksistensi imigran Tionghoa yang erat dengan pergantian kekuasaan sehingga mengakibatkan munculnya kebijakan berbeda dari pemerintah terhadap masyarakat Tionghoa (halaman 81).
Tak hanya itu, di bab 4, penulis memaparkan tiga kebijakan penguasa terhadap warga Tionghoa mulai dari Belanda, Jepang, dan Indonesia. Di masa Jepang, terjadi dualisme sikap warga Tionghoa antara golongan peranakan yang berpendapat lebih mudah melawan gerakan fasisme Jepang di tanah Jawa dan golongan Tionghoa totok yang solider pada penderitaan saudaranya di Tiongkok tatkala dikuasai Jepang pada 1931.
Imamura, panglima Jepang di Indonesia saat itu, memanfaatkan warga Tionghoa, dalam perspektif Jepang, dengan jalan menghidupkan kembali budaya mereka. Kebijakan ini memperkuat identitas mereka, sekaligus menjauhkan golongan peranakan dari budaya setempat. Akibatnya terjadi perpecahan bagi gerakan perlawanan pada Jepang di Jawa dengan banyaknya orang Tionghoa yang bekerja sama dengan Jepang.
Kala itu, Imamura sudah menerapkan apa yang disebut politik devide et empera. Dasar argumentasinya adalah, jika kebudayaan leluhurnya dihidupkan kembali, niscaya perhatian warga Tionghoa dapat dimanfaatkan untuk membantu kedudukan Jepang di Indonesia.
Di buku ini juga dijelaskan bahwa peran masyarakat Tionghoa dalam mendirikan negara ini tidak kecil. Tatkala Jepang menduduki Surabaya, mereka melakukan perlawanan dengan memboikot perdagangan produksi Jepang yang disponsori Tjin Tjay Hwee (halaman 84). Di sini terlihat bahwa, walau dengan cara beda, kebijakan Indonesia yang pernah menghilangkan kecinaan, yang dianggap menyebabkan mereka merasa bukan orang Indonesia, memiliki dampak yang kurang lebih sama pada masa pendudukan Jepang, dengan terjadinya dualisme sikap warga Tionghoa yang anti dan pro republik.
***
Usai membaca buku setebal 151 halaman ini, terdapat sejumlah catatan yang dapat menjadi renungan. Pertama, perlakuan represif terhadap masyarakat minoritas Tionghoa dari penjajah yang kemudian mewaris pada Indonesia membuat kita makin paham bahwa sistem politik dari siapapun penguasa umumnya dilakukan dengan memecah belah kekerabatan antar etnis/bangsa yang punya peran penting di bidang ekonomi maupun hubungannya dengan kaum pribumi.
Kedua, selain dapat menjadi kekayaan historis dengan keunggulannya dalam menyajikan berbagai fakta yang terluputkan dalam sejarah, buku ini dapat dijadikan refleksi yang menyentuh, bukan saja pada komunitas Tionghoa, melainkan juga kepada pembaca bahwa hampir dalam tiap sejarah kekuasaan, pemerintah cenderung amnesia terhadap kesalahan masa lalu. Perilaku amnesia inilah yang membuat komunitas Tionghoa selalu berada dalam posisi terpinggirkan.

Sabtu, 04 Agustus 2012

LSM Ulayat Rakyat Minta Gatot Pujo Nugroho Copot Kadis PariwisataNaruddin Dalimunthe


Susilo Umar Ketua LSM Ulayat Rakyat mengatakan, Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Utara (Kadisparsu) H Naruddin Dalimunthe diduga terlibat korupsi dana promosi kebudayaan Sumatera Utara Rp 5 miliar. Pasalnya, Kadisparsu tidak dapat menunjukkan bukti-bukti ril terkait pelaksanaan promosi kebudayaan Sumut ke mancanegara tersebut.


"Seharusnya Naruddin harus berani transparan dengan menunjukkan bukti-bukti pelaksanaan promosi pariwisata dimaksud baik berupa berita acara, kontrak kerja, kwitansi pembayaran, bukti pelaksanaan tender dan berbagai bukti pendukung lainnya." ujar HE Paulus kepada andalas, Jumat (3/8).
Sekaitan itu,LSM Ulayat Rakyat menegaskan, Plt Gubsu H Gatot Pujo Nugroho sebaiknya mencopot H Naruddin Dalimunthe dari jabatannnya sebagai Kepala Dinas Pariwisata Sumut. “Buat apa dipertahankan kadis bermasalah yang saat ini dilanda kasus dugaan korupsi,” katanya.
Menurut LSM Ulayat Rakyat   bila Gatot Pujo Nugroho tidak mencopot Naruddin dengan segera, ini akan membawa dampak negatif terhadap kinerja Plt Gubsu itu sendiri. Orang berprasangka demikian, karena seorang pejabat bermasalah malah dilindungi.
“Maka untuk menghindarkan imej negatif masyarakat, Plt Gubsu harus bertindak tegas untuk mengganti Naruddin,” tandas Paulus.
LSM Ulayat Rakyat menegaskan, Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) sebaiknya mengambil-alih kasus dugaan korupsi Kadisparsu demi penyelamatan uang negara. (Joko)

Anggota Kodim 0201/BS Pelda Januar Prihatin (JP) Sinaga Gagalkan Perampokan Bersenpi

GAGALKAN PERAMPOKAN – Anggota Kodim 0201/BS Pelda JP Sinaga (kanan) didampingi Letkol inf Doni Hutabarat (kiri) saat menjelaskan upaya perampokan yang ia gagalkan, di Makodim 0201/BS, Medan, Sumut, Jumat (3/8).

Anggota TNI yang bertugas di Kodim 0201/BS Pelda Januar Prihatin (JP) Sinaga berhasil menggagalkan aksi perampokan bersenjata api yang ingin menggasak sebuah tas berisi uang Rp200 juta yang dibawa kasir Swalayan Maju Bersama, Kamis (2/7) siang di Jalan KL Yos Sudarso simpang Glugur, Medan.

Peristiwa itu terjadi saat JP Sinaga hendak menjemput istrinya di Rumkit Putri Hijau dengan mengendarai mobil Avanza BK 1575 QK. Sayangnya komplotan perampok tersebut berhasil kabur dengan menumpang sebuah mobil Avanza hitam setelah seorang anggota komplotan menodongkan senjata apinya ke arah warga yang berusaha mengejar.
"
Usai dari Rumkit Putri Hijau, kami mau menuju bengkel. Tetapi di tengah jalan, istri saya mengajak singgah ke ATM BRI di Jalan KL Yos Sudarso simpang Glugur untuk ambil uang buat bukaan. Saat mau parkirkan mobil, saya melihat terjadi tarik menarik antara korban dengan pelaku, karena mobil saya dengan mobil korban bersebelahan," kata JP Sinaga didampingi Dandim 0201/BS Letkol Inf Donny Hutabarat, Jumat (3/8) saat temu pers di Makodim.

Ketika pelaku berhasil mengambil uang korban, pelaku dengan mengendarai sepeda motor Jupiter BK 2009 HBH lari dengan temannya yang sudah menunggu di atas sepeda motor.
"Baru dua meter berjalan, saya langsung menabrak sepeda motor itu. Dua pelaku tergeletak dan uangnya bertaburan di jalan, namun pelaku berhasil melarikan diri dengan menaiki mobil Avanza hitam yang datang dari arah belakang," jelasnya.
Namun, lanjutnya, saat masyarakat berupaya mengejar mobil tersebut, satu orang yang di dalam mobil mengeluarkan senjata api. "Saya tidak tahu pasti, tapi kata masyarakat ada senjata apinya. Dan saya lihat ada empat orang yang di dalam mobil, ada yang berbadan tegap dan cepak, tapi yang tarik menarik uang itu orangnya tinggi dan kurus memakai baju kotak-kotak," ungkapnya.
JP Sinaga mengaku, saat itu dirinya spontanitas saja menolong wanita tersebut. "Kebetulan saya yang memakai baju dinas, murni ingin membantu. Dan Insya Allah saat itu saya sedang berpuasa. Saya juga sempat menenangkan korban, karena dia shock, lalu saya pergi ke bengkel," imbuhnya.
Menanggapi hal ini, Dandim 0201/BS Letkol Inf Donny Hutabarat mengatakan, penghargaan pasti ada diberikan kepada prajurit berprestasi. "Kita juga akan mebantu aparat kepolisian, untuk mengungkap siapa perampoknya. Saya rasa ini perampokan terencana, kita siap membantu dalam penyelidikan ini," tegasnya.
Sementara sopir mobil korban, Purnomo, yang tinggal di Perumnas Simalingkar mengatakan sebelum kejadian ia bersama kasir Swalayan Maju Bersama, Angelina, baru dari BII Jalan Diponegoro untuk menyetorkan uang.

Setelah itu singgah ke Bank Mandiri di Jalan Pulau Pinang untuk menukarkan uang dan selanjutnya bermaksud kembali ke kantor di Swalayan Maju Bersama, Pulo Brayan.
“Waktu di jalan ada sopir angkot bilang ban mobil yang saya bawa kempes. Saya buka kaca dan lihat memang kempes, tapi saya tetap jalan,” ujar Purnomo.

Namun, karena ban kempes, mobil yang dikemudikannya jadi kurang enak dibawa. Lalu Purnomo memberhentikan mobilnya Xenia BK 1048 GN.
Ia sempat keluar dari mobil dan melihat ban mobil yang kempes, tetapi ia terkejut melihat kasirnya yang duduk di belakang sedang tarik menarik tas yang berisi uang dengan seseorang. “Saya terkejut melihatnya dan saya langsung berteriak rampok,” ujar Purnomo.
Teriakan itu mengundang perhatian warga yang kebetulan melintas dan berusaha memberikan bantuan, tetapi pelaku mengancam dengan mengacungkan senjata dan berhasil kabur dengan mobil yang mereka bawa

PKL Lubukpakam Mengamuk


LUBUKPAKAM-Pedagang kaki lima (PKL) mengamuk di Lubukpakam Deliserdang, Jumat (3/8). Bahkan, seorang pedagang nekad menantang dan mencopot jabatan Camat Lubukpakam Citra Effendi Capah, karena memerintahkan petugas Sat Pol PP membongkar kios miliknya, tanpa adanya surat pemberitahuan, Jumat (3/8) sekitar pukul 10.00 WIB.
“Enak saja kalian membongkar kiosku, kalian tidak tau siapa saya? Saya adik Kapolres di Jawa Timur, awas Kau Camat ya, ku copot kau nanti,” teriak pedagang yang namanya tidak mau dikorankan itu.
Menanggapi sikap seorang PKL itu, Camat Lubukpakam Citra Efendi Capah, menganggap tindakan PKL itu merupakan hal wajar. Kendati begitu, pihaknya mengaku sudah berulangkali menegur para pedagang, agar tidak berjualan di badan jalan, sehingga tidak mengganggu aktivitas lalu lintas. “Silahkan saja mengancam, saya wajib menjaga kenyamanan kota,” kata Citra

Enam Media Dinilai Lakukan Kampanye Negatif



MEDAN- Pengamat Komunikasi Prof Suwardi Lubis mengungkapkan setidaknya ada enam media massa di Sumut yang dinilai melakukan black campaign alias kampanye negatif  atas beberapa kandidat balon Gubsu dalam proses Pilgubsu 2013.
Hal itu dikatakannya saat dihubungi wartawan menyikapi tentang munculnya  black campaign dalam proses Pilgubsu. “Dari hasil pengamatan terhadap media massa di Sumut, ada 6 media massa yang cenderung melakukan kampanye negatif ,” ujarnya.
Suwardi mengatakan, media massa memiliki fungsi yang krusial dalam kehidupan masyarakat. Setidaknya fungsi tersebut adalah kontrol sosial dan pendidikan. “Karena itu, saya mendorong agar media massa dapat menjalankan fungsi kontrol sosial dan pendidikan dengan baik,” tegasnya. Menurut dia, dalam pemberitaan proses Pilgubsu ini, media diharapkan dapat menyampaikan informasi yang membangun wawasan.
“Media jangan menjadi provokator. Jangan hanya berita yang negatif saja dimunculkan, tapi munculkan juga berita yang positif,” tuturnya.

Pangdam: Menyerahkan senpi illegal diberi hadiah



IDI - Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen TNI Zahari Siregar mengaku senjata api (senpi) ilegal masih beredar di Aceh. Namun ia tidak bisa memastikan jumlahnya. Pangdam mengimbau masyarakat yang memiliki atau menyimpan senjata api ilegal agar menyerahkan melalui Dandim atau Danramil.

“Secara logisnya kalau kita memiliki senjata pikiran kita itu kadang-kadang mau yang macam-macam saja. Contohnya saja kalau kita punya belati maunya berantam saja. Tapi kalau ini tidak ada terus kita ganti dengan pembangunan pasti pikiran kita kok masih kurang aja Aceh ini dibangun," ujar Pangdam, hari ini.

Kepada masyarakat yang memiliki senjata ilegal dan menyerahkan kepada pihaknya, kata Pangdam, akan diberikan penghargaan dan ucapan terima kasih. "Serta tidak diberikan sanksi apa pun," ujarnya.

Ia mengimbau pemilik senjata api ilegal yang mau menyerahkan jangan merasa takut akan ditangkap atau diintimidasi setelah penyerahan. "Jika sudah mengembalikan senjata api ilegal, masalah keamanan terjamin," ujar Pangdam.

judi Deli Serdang Dipiara Aparat


Kelompok pemain judi yang ditangkap di Desa Manunggal Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara sering berpindah-pindah agar tidak diketahui pihak kepolisian.

“Modusnya sering berpindah-pindah agar tidak diketahui petugas,” kata Kasubbid Pengelola Informasi dan Data Polda Sumut AKBP MP Nainggolan di Medan, hari ini.

Menurut dia, disebabkan sering berpindah-pindah tersebut, pihaknya meningkatkan penyelidikan untuk melacak keberadaan kelompok judi itu.

Setelah mengumpulkan berbagai berbagai informasi, pihaknya mengetahui kelompok tersebut bermain judi di sebuah cafe di Pasar VII Desa Manunggal, Labuhan Deli, Deli Serdang.

Disebabkan pemain judi yang akan ditangkap cukup banyak, pihaknya mengerahkan personel yang memadai dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumut, personel Polres Pelabuhan Belawan, dan 50 anggota Satuan Brimob Polda Sumut untuk melakukan penggerebekan.

Dalam penggerebekan, pihaknya berhasil menangkap pemain judi sebanyak 58 orang dengan barang bukti uang sebanyak Rp2 juta, dua lembar tempat judi dadu, dua buah mata dadu, 46 buah batu domino, dan 18 buah potongan kayu bulat sebagai pengganjal uang taruhan.

“Seluruh pemain judi itu dibawa ke Mapolda Sumut unutk diperiksa,” katanya.

Pihaknya masih melakukan pengembangan dan penyelidikan untuk mengetahui kemungkinan adanya tempat lain yang dijadikan lokasi perjudian.

Selain untuk memberantas penyakit masyarakat, upaya hukum tersebut juga dilakukan untuk memberikan kenyamanan bagi umat muslim dalam menjalan berbagai ibadah pada bulan suci Ramadhan.

Wah Hebat Polisi Pesta Narkoba


Citra aparat Polri kembali tercoreng akibat ulah oknum anggotanya. Kali ini kejadian yang memalukan tersebut dilakukan Briptu Hendra Wahyudi, anggota Polsek Medan Labuhan, Polres Pelabuhan Belawan.

Tersangka Hendra bersama dua temannya (sipil-red) yakni Marianto dan Yuda, ditangkap aparat Komando Distrik Militer (Kodim) 0203/Langkat, saat menggelar pesta narkoba di sebuah rumah kosong bekas komplek asrama TNI di Kebun Lada, Binjai Utara.

Selain menangkap tiga tersangka, petugas juga mengamankan satu bungkus ganja kering, 5 paket shabu berikut alat hisap. Kemudian ditemukan tiga unit ponsel dan uang Rp 700 ribu yang diduga dari hasil transaksi narkoba.

Menurut Lettu Iwan Andoko, perwira Intel Kodim 0203 di Medan, hari ini, penangkapan itu berawal dari informasi warga yang mencurigai aktivitas di sebuah rumah kosong itu. Kemudian sejumlah petugas turun ke lokasi dan ketiga tersangka berhasil ditangkap, seorangnya polisi.

"Saat dilakukan penggrebekan ketiga tersangka ditemukan sedang asyik menggunakan narkoba jenis sabu dan ganja. Usai menjalani pemeriksaan di Markas Kodim, ketiga tersangka dan barang bukti diserahkan ke Polres Binjai,"jelasnya.

Jumat, 03 Agustus 2012

Negara Sumatera Timur

 

Negara Sumatera Timur berdiri pada tanggal  25 Desember 1947 dalam usaha mempertahankan daerah kaya minyak dan perkebunan tembakau dan karet di daerah yang saat ini menjadi provinsi sumut pesisir timur. Bagi Belanda, hasil perkebunan karet dan minyak adalah sangat penting dalam usaha penjajahan kembali wilayah Indonesia yang luas. Sebelumnya pada 8 Oktober 1947, Belanda mendeklarasikan Daerah Istimewa Sumatera Timur dengan gubernur Dr. Tengku Mansur, seorang 


bangsawan  kesultanan Asahan yang juga ketua organisasi Persatuan Sumatera Timur.[2]
Negara Sumatera Timur (NST) adalah salah satu negara bagian buatan Belanda yang bertahan cukup lama selain negara sumatera timur  karena terdapat banyak faktor kompleks yang membentuk persekutuan anti-republik. Persekutuan tersebut terdiri atas kaum bangsawan melayu sebagian besar raja-raja simalungun  beberapa kepala suku Karo dan kebanyakan tokoh masyarakat Cina. Mereka semua merasa kedudukannya terancam dengan berdirinya negara baru. Perasaan itu muncul karena pada masa-masa awal tahun kemerdekaan terdapat pengalaman pahit dengan tekanan kaum muda pro-republik yang sangat anti bangsawan dan anti kemapanan. (Lihat revolusi sosial 1946) Dengan datangnya Belanda bersama Inggris (dan juga setelah Agresi Militer I) di Sumatra, persekutuan anti-republik mendorong dan menyambut berdirinya NST. Meski demikian banyak pula rakyat yang menentang berdirinya NST dan melakukan perlawanan militer terhadap Belanda.

 
Setelah perjanjian KMB disetujui, maka pada tanggal 3-5 Mei 1950 diadakan perundingan antara perdana menteri RIS M.Hatta dengan Presiden NST Dr. Tengku Mansur (juga dengan Presiden Negara Indonesia Timur Sukawati) yang menyetujui pembentukan negara kesatuan. Pada tanggal 13 Mei 1950 Dewan Sumatera Timur menentang kepututsan tersebut. Meski demikian Dewan Sumatera Timur masih bersedia menerima pembubaran RIS dengan syarat NST dileburkan ke dalam RIS, bukan RI. Pada tanggal 15 Agustus 1950, terbentuklah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan NST bubar.

Perdjuangan Semesta

 ‎Letnan Kolonel Ventje Sumual Saat Memproklamirkan Permesta
 Letnan Kolonel Ventje Sumual Saat Memproklamirkan Permesta

Perdjuangan Semesta atau Perdjuangan Rakjat Semesta disingkat Permesta adalah sebuah gerakan militer di Indonesia. Gerakan ini dideklarasikan oleh pemimpin sipil dan militer Indonesia Timur pada 2 Maret 1957 yaitu oleh Letkol Ventje Sumual. Pusat pemberontakan ini berada di Makassar yang pada waktu itu merupakan ibu kota Sulawesi. Awalnya masyarakat Makassar mendukung gerakan ini. Perlahan-lahan, masyarakat Makassar mulai memusuhi pihak Permesta. Setahun kemudian, pada 1958 markas besar Permesta dipindahkan ke Manado. Disini timbul kontak senjata dengan pasukan pemerintah pusat sampai mencapai gencatan senjata. Masyarakat di daerah Manado waktu itu tidak puas dengan keadaan pembangunan mereka. Pada waktu itu masyarakat Manado juga mengetahui bahwa mereka juga berhak atas hak menentukan diri sendiri (self determination) yang sesuai dengan sejumlah persetujuan dekolonisasi. Di antaranya adalah Perjanjian Linggarjati, Perjanjian Renville dan Konferensi Meja Bundar yang berisi mengenai prosedur-prosedur dekolonisasi atas bekas wilayah Hindia Timur.
Pemerintah pusat Republik Indonesia yang dideklarasikan di Jakarta pada 17 Agustus 1945 kemudian menggunakan operasi-operasi militer untuk menghentikan gerakan-gerakan pemberontakan yang mengarah kepada kemerdekaan.


Pada tanggal 2 Maret 1957 di Makassar,Letkol.Ventje Sumual memproklamirkan berdirinya Piagam Perjuangan Semesta.Gerakan meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia Timur serta mendapat dukungan dari tokoh-tokoh Indonesia Timur. Ketika itu keadaan Indonesia sangat bahaya dan hampir seluruh pemerintahan di daerah diambil oleh militer. Selain itu mereka juga membekukan segala Aktivitas PKI(Partai Komunis Indonesia), serta menangkap kader-kader PKI. Keadaan semakin genting tatkala diadakan rapat di gedung Universitas Permesta yang membicarakan pemutusan hubungan dengan pemerintah pusat. Pada pukul 07.00 diadakan pertemuan di ruang rapat gedung Universitas Permesta di Sario Manado dengan tokoh tokoh politik, masyarakat dan cendikiawan. Saat itu Kapten Wim Najoan, Panglima Komando Daerah Militer Sulawesi Utara dan Tengah, memberikan gambaran tentang perkembangan di Sumatera dan putusan agar dibentuknya PRRI. Selanjutnya ia memberikan sebuah pernyataan "Permesta di Sulutteng menyatakan solider dan sepenuhnya mendukung pernyataan PRRI. Oleh sebab itu, mulai saat ini juga Permesta memutuskan hubungan dengan Pemerintah RI Kabinet Djuanda." Seketika pula para peserta rapat berdiri dan menyambutnya dengan pekik: "Hidup PRRI! Hidup Permesta! Hidup Somba!" Setelah itu rapat diskors 30 menit untuk menyusun teks pemutusan hubungan dengan pusat oleh 3 orang Mayor Eddy Gagola, Kapten Wim Najoan dan kawan-kawan. Setelah selesai menyusun teks pemutusan hubungan degan Pemerintah Pusat rapat dilanjutkan dan teks tersebut dibacakan kepada para hadirin. Respons perta rapat sangat antusias, dengan ramai mereka mendengungkan pekik "Hidup Permesta! Hidup PRRI! Hidup Somba-Sumual!" Setelah itu Mayor Dolf Runturambi bertanya kepada hadirin, "Bagaimana, saudara saudara setuju?" Serentak dijawab: "Setuju! Setuju!" Kembali suasana yang sangat ramai dari para hadirin. Setelah rapat tersebut, Kolonel D. J. Somba selaku pimpinan Kodam Sulawesi Utara dan Tengah mengadakan rapat di lapangan sario Menado. Ia membacakan teks pemutusan hubungan dangan Pemerintah Pusat yang isinya:
"RAKYAT SULAWESI UTARA DAN TENGAH TERMASUK MILITER SOLIDER PADA KEPUTUSAN PRRI DAN MEMUTUSKAN HUBUNGAN DENGAN PEMERINTAH RI"



Hari itu juga Pemerintah Pusat kemudian mengumumkan pemecatan dengan tidak hormat atas Letkol H.N. Ventje Sumual, Mayor D.J. Somba, dan kawan kawannya, dari Angkatan Darat. Saat itu pula para pelajar, mahasiswa, pemuda dan ex-KNIL mendaftarkan diri untuk menjadi Pasukan dalam Angkatan Perang Permesta. Bagi mereka yang telah mendatar langsung di beri latihan di Mapanget. dalam hal ini pula keterlibatan Amerika Serikat benar benar terlihat,dengan mendatangkan penasehat penasehat militernya.serta memberikan sejumlah bantuan berupa Amunisi, mitraliur anti pesawat terbang selain itu untuk memperkuat Angkatan Perang Revolusioner (AUREV). mereka juga mendatangkan sejumlah pesawat terbang antara lain pesawat pengangkut DC-3 Dakota, pesawat pemburu P-51 Mustang, Beachcraft, Consolidated PBY Catalina dan pembom B-26 Invader. di sisi lain juga Permesta membentuk suatu badan dan satua kepolisian yaitu 1.Polisi Revolusioner 2.Pasukan Wanita Permesta(PWP) 3.Permesta Yard yaitu sebuah badan intelejen.
Selain dari Amerika Serikat Permesta juga mendapat bantuna dan dukungan dari Negara Negara pro Barat seperti Taiwan, Korea Selatan, Philipina serta Jepang. dan dengan dukungan yang begitu besar sehingga Permesta tidak pernah kehabisan perbekalalan ketika bertempur Sejumlah besar anggota Komando Pemuda Permesta wilayah Sulawesi Utara dan Tengah dengan sukarela mendaftarkan diri menjadi anggota pasukan Permesta Komando Pemuda Permesta. Sebelumnya tugas Mereka, adalah untuk membantu pemerintah daerah guna mengerahkan tenaga dan dana untuk melancarkan pembangunan di daerah daerah. Pergolakan inipun terus berlanjut dan semakin menuju terjadinya Perang Saudara. ketika itu Republik Indonesia yang baru berdiri kurang lebih 10 tahun setelah pengakuan kedaulatan benar benar di ujung tanduk. keutuhan Negara Republik Indonesia sangat membahayakan apalagi saat itu di daerah lainnya juga muncul pemberontakan pemberontakan terhadap Pemerintah RI yaitu 1. PRRI (Pemerintahan Revolusioner Indonesia) 2. DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) 3. Republik Maluku Selatan
Selain itu juga di dalam tubuh pemerintahan RI banyak terjadi pergolakan politik.terutama dengan silih bergantinya Kabinet,seiring dengan penerapan Demokrasi Liberal. di sisi lain hubungan Dwi-Tunggal Soekarno dan juga Hatta mengalami keretakan.ini terjadi akibat dari kedekatan Soekarno dengan Partai Komunis Indonesia yang selalu memusuhi Hatta. akhirnya dengan berat hati memundurkan diri dari jabatan sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia di kala suasana Negara yang kritis. Akibat pemutusan hubungan Permesta dengan Pusat Kota Menado Menjadi sangat mencekam.Kegelisahan meghantui setiap penjuru Menado. Warga seaakan tak bisa tenang untuk sesaatpun karena khawatir akan adanya serangan dari Pemerintah Pusat yang diperkirakan tak lama lagi bakal datang menyerbu daerah yang dikuasai Permesta. Banyak Masyarakat menado yang mengungsi ke luar Kota untuk menghindari Perang Saudara yang nampaknya akan menjadi sebuah kenyataan, Di lain pihak juga dukungan terhadap Permesta semakin besar. Dengan,masuknya Kolonel Alexander Evert Kawilarang setelah berhenti sebagai Atase Militer RI pada Kedubes RI di Washington, DC, Amerika Serikat], kemudian ia berhenti dari dinas militer, dengan Pangkat Brigadir Jenderal. Selanjutnya pulang ke Sulawesi Utara untuk bergabung dengan Permesta. disana ia mendapat jabatan sebagai Panglima Besar/Tertinggi Angkatan Perang Revolusi PRRI dan Kepala Staf Angkatan Perang APREV (Angkatan Perang Revolusi) PRRI, dengan pangkat Mayor jenderal.dan selanjutnya ia menjadi Panglima Besar Permesta. Presiden Taiwan Chiang Kai Shek pernah merencanakan untuk mengirimkan 1 resimen marinir dan 1 skuadron pesawat tempur untuk merebut Morotai bersama sama dengan Permesta, namun Menteri Luar Negeri Taiwan Yen Kung Chau menentang gagasan itu.karena khawatir Republik Rakyat Cina akan ikut serta membantu Pemerintah Pusat di Jakarta dan mungkin akan memiliki alasan untuk mengintervensi. terhadap Taiwan. walaupun demikian. Taiwan sebelumnya memang sudah membantu Permesta dengan mengirimkan persenjataan dan dua squadron pesawat tempur ke Minahasa untuk Angkatan Udara Revolusioner Bantuan Taiwan akhirnya tercium oleh Pemerintah Pusat. Bulan Agustus 1958, militer mengambil alih bisnis yang dipegang oleh penduduk WNI asal Taiwan. dan sejumlah Surat Kabar, Sekolah ditertibkan.

Operasi Militer

Pemerintah Pusat melalui KSAD Mayor Jenderal Nasution melakukan pesiapan guna melakukan operasi militer terhadap kedudukan Permesta di Sulawesi. operasi ini di sebut Operasi Saptamarga I dengan pimpinan Letkol Soemarsono dengan rincian sasaran Sulawesi Utara bagian Tengah pada bulan Maret 1958 Palu dan Donggala telah direbut oleh APRI(Angkatan Perang Republik Indonesia) dan Pasukan Mobile Brigade, di bawah pimpinan Kapten Frans Karangan Dikabarkan bahwa komandan. Akhir Maret 1958, Permesta mendapatkan bantuan gerombolan Jan Timbuleng (Pasukan Pembela Keadilan/PPK) juga turut bergabung gerombolan pemberontak lainnya, kurang lebih 300 orang dari satu kelompok (Sambar Njawa) yang dipimpin Daan Karamoy. Serta bekas istri Jan Timbuleng, Len Karamoy sebagai komadan pasukan, menawarkan diri untuk melatih sebuah laskar wanita untuk Permesta (PWP). serta mereka Pula melakukan rencana untuk menyerang Jakarta. Namun secara bertahap. rencana ini di beri nama Operasi Djakarta II. Rencana Operasi Djakarta II itu adalah sebagai berikut: a. merebut kembali daerah Palu/Donggala yang telah dikuasai Tentara pusat;lalu menyerang dan menduduki Balikpapan. b. sasaran kedua adalah Bali; c. sasaran ketiga adalah Pontianak; d. sasaran terakhir adalah Jakarta.
Operasi ini bertujuan untuk menekan Pemerintah Pusat agar mau berunding dengan PRRI. dan pada 13 April 1958 pesawat pesawat milik AUREV menyerang lapangan udara Mandai Makassar serta tempat tempat lainya seperti Ternate,Balikpapan dan Donggala dan serangan yang paling fatal adalah serangan terhadap Kapal Hang Tuah yang sedang bersandar di pelabuhan Balikpapan.menyebabkan Kapal tersebut tenggelam. Pada tanggal 18 mei 1958 dilakukanlah Operasi Mena II di bawah Komando Letkol. KKO Huhnholz untuk merebut lapangan udara Morotai di sebelah utara Halmahera. mayor Soedomo selaku Kepala Staf memerintahkan tuk berlayar ke Pulau Tiaga di lepas Pantai Ambon dengan di dukung Pesawat P-51 Mustang dan B-26 serta Pasukan Gerak Cepat,Pasukan Angkatan Darat dan Gabungan Marinir. Lalu Datanglah serangan dari Allen Pope menggunakan Pesawat B-26 Invader. sebelumya ia telah menyerang Ambon setelah terbang dari Mapanget. Seketikapun Allen Pope menukikan Pesawatnya untuk menyerang kedudukan Pasukan APRI. melihat tanda bahaya para awak yang berada di dalam Kapal dengan serentak melakukan tembakan balasan. hampir seluruh Pasukan yang ada di dalam Kapal melakukanya. Mulai dengan Penagkis udara, Senapan Serbu, Senapan Otomatis, Senapan Infanteri bahkan Pistol. di sisi lain bantuan untuk Pemerintah Pusat pun datang dari penerbang bernama Ignatius Dewanto dengan menggunakan Pesawat kopkit P-51. Dewanto langsung memacu pesawatnya dan lepas landas. untuk membantu iring iringan ALRI yang diserang. Tetapi Dia tidak menemukan B-26 AUREV. Ferry Tank (Tangki bahan bakar cadangan) dilepas di laut. Lalu terlihatlah konvoi kawan kawanya yang diserang B-26 milik AUREV buruannya. Dengan cepat ia mengejar Dewanto lalu mengambil posisi di belakang lawan. Roket ditembakkan namun, berkali-kali lolos, disusul dengan tembakan 6 meriam 12,7, karena jaraknya lebih dekat, memungkinkan ia dapat mengenainaya lebih besar. Dewanto yakin tembakannya mengenai sasaran. Lalu semua awak yang berada di dalam Kapal melihat pesawat milik AUREV itu terbakar. lalu terlihatlah dua buah Parasut yang jatuh,ada yang jatuh di sebuah pohon, serta luka terhempas karang. lalu kedua orang itu adalah Allen Pope dan Harry Rantung, Pope adalah seorang penerbang bayaran asal Amerika Serikat. yang sedang melakukan tugas untuk membantu Permesta dalm Pemberontakan. Akibat semua ini adalah melemahnya kekuatan Permesta di udara. menyebabkan Apri dengan mudah menguasai setiap Wilayah yang semula diduduki Permesta. Kemudian Pasukan RPKAD bersiap untuk menyeran mapanget namun mengalami Kegagalan serta menewaskan Miskan, seorang Prajurit dan Sersan Mayor Tugiman,
Setelah Pasukan RPKAD gagal kemudian AURI menyerang Mapanget dengan Pesawat P-51 Mustang. dengan sasaran menembak awak Canon anti Udara pertempuran sengit pun terjadi para awak Canon anti udara, Permesta terus melakukan penembakan terhadap pasukan AURI secara Terus menerus. bahkan, dari merka ada yang sampai terpental namun tidak mengalami luka, lalu kembali memegang Canon Anti Udara mereka maisng masing. dari akhirnay serangan ini kembali tidak membuahkan hasil. para Canon Anti Udara Permesta menjadi Pahlawan karena berhasil mengusir setiap serangan yang selalu datang.sebelumnya,mereka juga sempat merontokan 3 pesawat milik AURI.AURI pun mengakui keunggulan Pertahanan udara Permesta yang mereka nilai paling tersulit selama Melakukan Operai Militer. kebanyakan dari mereka adalah Pasukan Ex-KNIL jadi sudah sangat terlatih walaupun umur mereka banyak yang sudah tua,namun berkat pengalaman yang mereka miliki. mereka dapat berbuat banyak. Sementara itu Gubernur Sulawesi Andi Pangerang menyatakan Pembekuan segala Aktivitas yang Berkaitan dengan Permesta. dan kemudian Amerika Serikat menarik segala bantuanya terhadap Permesta. karena malu terhadap Pemerintah Pusat setelah pesawat yang di kemudikan Pope terjatuh, yang membongkar segala bantuan Amerika terhadap Permesta, Sebelum pesawat itu jatuh Amerika Serikat, dengan sangat bersikeras menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak terlibat dengan PRRI maupun Permesta. Seperti yang dikutip oleh John Foster Dulles “Apa yang terjadi di Sumatera adalah urusan dalam negeri Indonesia. AS tidak ikut campur dalam urusan dalam Negeri Negara lain” Kemudian, Eisenhower selaku Presiden Amerika Serikat, mengadakan jumpa pers terkait Peristiwa yang terjadi di Sumatera dan Sulawesi,serta penemuan beberapa senjata buatan AS. isi dari jumpa pers itu adalah: “Senjata-senjata yang ditemukan oleh ABRI. adalah senjata yang dengan mudah dapat ditemukan di pasar gelap dunia. Di samping itu, sudah biasa di mana ada konflik pasti akan ditemukan tentara bayaran”Tetapi tuduhan bahwa Amerika Serikat terlibat disini semakin nyata, setelah tubuh Pope digeledah dan terdapat beberapa identitas tentang dirinya. seperti surat keterangan yang mengizinkan Pope memasuki semua fasilitas militer AS di Philpina. Juga ada kartu klub perwira di pangkalan itu.
Hal ini membuat Amerika benar-benar kehilangan muka di dunia.bahkan segala buku yang mengisahkan sepak terjang CIA selalu memojokan Amerika. Untuk meraih Hati Presiden Soekarno. Amerika menawarkan bantuan senjata. serta bersedia mengimpor beras kepada Indonesia dengan bayaran Rupiah,selain itu dengan sangat terpaksa, Amerika menghentikan segala bantuannya kepada PRRI dan Permesta. sehingga membuat keduannya semakin melemah. Sementara itu peperangan antara Pemerintah pusat dan Permesta semakin gencar. saling menguasai beberapa tempat terjadi. pada tanggal 17 Pebruary 1959 Permesta secara serentak melakukan serangan besar besaran yang di beri nama operasi "Operation Djakarta Special One". Tujuan dari serangan itu adalah. menduduki beberapa Kota Srategis seperti; Langowan, Tondano dan Amurang-Tumpaan. untuk menhancurkan segala Prasarana musuh. Namun demikian,operasi tersebut mengalami kegagalan walaupun Permesta sempat menduduki beberapa tempat. namun hanya untuk beberpa jam saja. karena temat tersebut berhasil direbut oleh Pasukan APRI dan AURI.
Setelahnya pasukan APRI dan AURI berhasil menduduki beberapa tempat yang sebelumnya merupakan basis terkuat dari Permesta.


Kembali ke NKRI

Pada tahun 1960 Pihak Permesta Menyatakan kesediaanya, untuk berunding dengan Pemerintah Pusat. Perundingan pun dilangsungkan Permesta diwakili oleh Panglima Besar Angkatan Perang Permesta, Mayor Jenderal Alex Evert Kawilarang. serta Pemerintah Pusat diwakili oleh Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal A.H. Nasution. dari perundingan tersebut tercapai sebuah kesepakatan yaitu: bahwa pasukan Permesta akan membantu pihak TNI untuk bersama-sama menghadapi pihak Komunis di Jawa. Pada tahun 1961 Pemerintah Pusat melalui Keppres 322/1961. memberi Amnesti dan Abolisi Bagi siapa saja yang terlibat PRRI dan Permesta. tapi bukan untuk itu saja bagi anggota DI/TII baik, di Jawa Barat, Aceh, Jawa Tengah, Kalimntan Selatan dan Sulawesi Selatan Juga berhak Menerimanya. Sesudah keluar keputusan itu, be ramai-ramai banyak anggota Permesta yang keluar dari hutan-hutan Untuk mendapatkan Amnesti dan Abolisi. Seperti Kolonel D.J. Somba, Mayor Jenderal A.E. Kawilarang, Kolonel Dolf Runturambi, Kolonel Petit Muharto Kartodirdjo, dan Kolonel Ventje Sumual beserta pasukannya menjadi kelompok paling akhir yang keluar dari hutan hutan. untuk mendapatkan Amnesti dan Abolisi. dan pada tahun itu pula permesta dinyatakan bubar.